Mitigasi Visual: Pembuatan Rambu Evakuasi Khusus yang Mudah Dipahami Warga Gorontalo
Peningkatan kesiapsiagaan bencana di wilayah pesisir Sulawesi kini mulai memperhatikan aspek komunikasi massa yang lebih inklusif, terutama dalam memperkuat basis pelatihan penyelamatan yang dapat diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Penguatan basis pelatihan penyelamatan di Gorontalo menjadi sangat vital agar warga memiliki panduan yang jelas saat menghadapi ancaman gempa bumi maupun tsunami yang sewaktu-waktu dapat terjadi. Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan adalah penerapan mitigasi visual melalui pembuatan rambu evakuasi khusus yang dirancang dengan simbol-simbol yang mudah dipahami, bahkan oleh anak-anak, lansia, maupun penyandang disabilitas di berbagai desa.
Mitigasi visual melalui rambu-rambu yang standar namun tetap memperhatikan kearifan lokal adalah langkah strategis untuk mempercepat waktu respon warga saat keadaan darurat. Seringkali, rambu evakuasi yang ada terlalu rumit atau menggunakan istilah teknis yang tidak akrab bagi masyarakat pedesaan. Di Gorontalo, desain rambu kini disesuaikan dengan menggunakan warna-warna kontras yang tetap terlihat dalam kondisi minim cahaya atau tertutup asap. Penggunaan piktogram yang menggambarkan gerakan manusia menuju tempat tinggi atau titik kumpul (assembly point) menjadi fokus utama agar pesan dapat tersampaikan secara instan tanpa perlu membaca teks yang panjang di tengah kepanikan.
Pembuatan rambu evakuasi khusus ini melibatkan kolaborasi antara ahli desain grafis, praktisi keselamatan dari PMI, dan tokoh masyarakat setempat. Penempatan rambu tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan hasil pemetaan risiko bencana di tiap-tiap kecamatan. Rambu harus diletakkan pada ketinggian yang tepat dan di lokasi yang strategis, seperti persimpangan jalan utama, dekat fasilitas umum, dan area pemukiman padat penduduk. Selain itu, material yang digunakan untuk rambu ini dipilih yang tahan terhadap cuaca ekstrem dan korosi air laut, mengingat banyak wilayah di Gorontalo yang berbatasan langsung dengan garis pantai.
Upaya memberikan instruksi yang mudah dipahami warga juga mencakup edukasi berkelanjutan mengenai arti dari setiap simbol visual yang terpasang. PMI Gorontalo rutin menyelenggarakan sosialisasi di sekolah-sekolah dan balai desa untuk membiasakan masyarakat dengan jalur evakuasi yang telah ditetapkan. Pemahaman visual ini sangat efektif dalam mengurangi risiko kerumunan yang saling bertabrakan (bottleneck) saat proses pengungsian berlangsung. Dengan rambu yang jelas, setiap individu tahu persis ke mana mereka harus melangkah untuk mencari keselamatan, sehingga potensi jatuh korban jiwa akibat kepanikan massal dapat ditekan sekecil mungkin.