Air Bersih dan Sanitasi: Peran Senyap PMI Menjaga Kesehatan Pasca Bencana
Ketika bencana alam melanda, perhatian publik dan media sering terfokus pada evakuasi, pertolongan pertama, dan penyediaan makanan darurat. Namun, di balik upaya heroik tersebut, terdapat peran vital yang seringkali terlupakan namun sangat menentukan nasib penyintas: penyediaan Air Bersih dan Sanitasi (Water, Sanitation, and Hygiene – WASH). Palang Merah Indonesia (PMI) memiliki peran senyap namun krusial dalam menyediakan infrastruktur dan pendidikan kebersihan di lokasi pengungsian. Kelangkaan Air Bersih dan Sanitasi yang memadai pasca-bencana dapat memicu wabah penyakit menular, seperti diare, kolera, dan tifus, yang berpotensi menelan korban jiwa lebih banyak daripada bencana itu sendiri. Oleh karena itu, memastikan ketersediaan dua faktor ini adalah prioritas kesehatan masyarakat PMI di fase darurat dan pemulihan.
Kegiatan WASH oleh PMI segera dimulai sesaat setelah fase penyelamatan selesai. Tim teknis PMI dilengkapi dengan peralatan canggih untuk memproduksi Air Bersih dan Sanitasi di daerah yang infrastrukturnya hancur. Ini mencakup penggunaan unit pengolahan air bergerak (mobile water treatment unit) dan alat penjernih air sederhana (filter). Sebagai contoh, dalam respons bencana gempa di Pulau Lombok pada Agustus 2018, PMI mengerahkan tiga unit mobil tangki air dan satu unit water treatment mobile yang mampu memproduksi hingga $10.000 \text{ liter}$ air layak minum per hari untuk puluhan ribu penyintas di berbagai titik pengungsian.
Selain air, sanitasi menjadi tantangan besar di kamp pengungsian. PMI bertanggung jawab untuk mendirikan fasilitas sanitasi yang layak dan higienis. Ini termasuk pembangunan bilik jamban (latrines) sementara dan fasilitas cuci tangan (handwashing stations) yang mudah diakses. Standar PMI mengacu pada standar Sphere, yang merekomendasikan satu toilet digunakan oleh maksimal 20 orang. Selain pembangunan fisik, tim relawan PMI juga aktif memberikan edukasi kebersihan diri (hygiene promotion). Edukasi ini disampaikan secara langsung kepada penyintas, terutama ibu-ibu dan anak-anak, tentang cara mencuci tangan yang benar dengan sabun, pembuangan sampah yang aman, dan penanganan air minum.
Menurut laporan kinerja PMI tahun 2025, program WASH adalah salah satu program dengan alokasi relawan paling tinggi di fase pemulihan. Misalnya, selama tiga bulan pertama pasca-banjir besar di Jawa Tengah pada Maret 2025, PMI mengirimkan 150 relawan kesehatan dan WASH untuk mendistribusikan $50.000$ paket kebersihan individu (hygiene kits) yang berisi sabun, sikat gigi, dan kebutuhan sanitasi lainnya. Upaya senyap dalam menyediakan Air Bersih dan Sanitasi ini secara langsung berkontribusi pada pencegahan wabah penyakit, yang membuktikan bahwa peran PMI jauh melampaui pertolongan pertama semata.