Air Bersih dan Sanitasi: Peran Kritis PMI Pasca Bencana
Saat bencana melanda, perhatian publik seringkali terfokus pada upaya evakuasi dan penyelamatan korban. Namun, di balik itu, ada tantangan besar lain yang sering kali luput dari perhatian: krisis air bersih dan sanitasi. Ketersediaan air bersih yang terbatas dan fasilitas sanitasi yang rusak dapat memicu wabah penyakit yang membahayakan nyawa, bahkan lebih parah dari bencana itu sendiri. Dalam situasi ini, Palang Merah Indonesia (PMI) memainkan peran yang sangat kritis, menjadi garda terdepan dalam memastikan kebutuhan dasar ini terpenuhi untuk mencegah bencana kemanusiaan sekunder.
Peran PMI dalam menyediakan air bersih dan sanitasi pasca-bencana adalah multifaset. Langkah pertama adalah penilaian cepat terhadap kondisi sumber air dan fasilitas sanitasi di area terdampak. Tim PMI akan dikerahkan untuk memeriksa sumur, pipa air, dan toilet umum yang rusak. Berdasarkan data dari Posko Induk PMI di lokasi bencana di Garut pada 18 Desember 2025, tim Watsan (Air dan Sanitasi) telah mendirikan 15 unit toilet darurat dan menyediakan 3 unit tangki air di berbagai titik pengungsian. “Fasilitas ini sangat vital untuk mencegah penyebaran penyakit seperti diare dan kolera,” ujar Kepala Tim Watsan, Ibu Rina.
Setelah penilaian, PMI akan mengerahkan unit-unit Water Treatment Plant (WTP) mobile untuk memproduksi air bersih dalam jumlah besar. Unit-unit ini mampu menyaring air dari sumber-sumber yang tidak layak konsumsi, seperti sungai atau sumur tercemar, menjadi air yang aman untuk diminum dan digunakan sehari-hari. Contohnya, pada 20 Desember 2025, PMI bekerja sama dengan sebuah perusahaan swasta untuk mengoperasikan unit WTP di lokasi bencana gempa Lombok. Unit tersebut mampu memproduksi 10.000 liter air bersih per hari, yang didistribusikan ke ribuan pengungsi.
Selain penyediaan air, PMI juga fokus pada edukasi higienitas. Dalam kondisi pengungsian yang padat, kebersihan diri menjadi kunci untuk menjaga kesehatan masyarakat. Relawan PMI akan berkeliling dari tenda ke tenda untuk mengajarkan cara mencuci tangan yang benar, pentingnya kebersihan lingkungan, dan cara menggunakan fasilitas sanitasi yang disediakan. Edukasi ini juga diberikan kepada anak-anak, yang merupakan kelompok paling rentan. Menurut laporan dari Puskesmas setempat, berkat edukasi intensif yang diberikan sejak hari kedua, tidak ada kasus penyakit menular yang signifikan di area pengungsian. Ini membuktikan bahwa air bersih dan sanitasi adalah kunci dalam manajemen pasca-bencana.